Cerpen
MENTARI TERAKHIR SEKOLAH DASAR
Waktu
begitu cepat berlalu, ternyata 6 tahun sudah aku menempuh pendidikan tingkat
dasar di Madrasah Ibtidaiyah Ar-Rahman Pondok Cina Beji Depok. Begitu banyak
kenangan di sekolah itu, begitu banyak pelajaran yang aku dapat dari sekolah
itu. Dari sekolah itu, aku bertemu banyak teman, belajar saling mengerti antar
sesama teman, dan belajar bersabar dari para guru.
Perkenalan
aku, sebut saja namaku Melati. Aku hanyalah anak dari seorang buruh. Hidupku
sederhana, namun bahagia. Kulitku sawo matang, tinggi badanku hanya sekitar 140
cm, wajahku bulat, kata orang senyumku manis tapi menurutku senyumku biasa
saja. Kata orang, sikapku sangat ramah sehingga aku sangat mudah mendapatkan
teman baru. Aku anak kedua dari tiga bersaudara, kakakku perempuan. Dia cantik,
putih, namun sedikit judes. Adikku laki-laki, dia tampan, lucu, sangat aktif
dan selalu ceria.
Mentari
tampak dari ufuk timur, cahayanya yang cerah memulai hidupku hari ini. Cerahnya
pagi itu secerah wajahku kala itu. Kebaya merah jambu dan rok batik menambah
cerahnya hidupku. Sambil berjalan, aku bersenandung ria. Memori ingatanku
seperti mencoba menayangkan kenangan lama. Kenangan yang dibuat selama enam
tahun, kenangan yang seperti menjadi modal hidup.
Kelas
satu, awal dimana aku memulai segalanya. Dimana aku memulai lembaran baru
dengan teman baru, buku baru, seragam baru, dan memulai segala yang baru.
Polosnya aku kala itu, masih cengeng, wajahku masih bersih seperti tak punya
dosa, selalu ceria dan bebas tanpa beban. Belum banyak hal yang aku tahu, mungkin hanya huruf alfabet a sampai z,
angka 1 sampai 100, tanda tambah dan kurang, serta yang paling aku tahu adalah
bermain, main, dan main.
Kelas
dua, awal aku bisa membaca dan dengan lancar menghitung penjumlahan serta
pengurangan. Wajah dan perilakuku masih sama seperti kelas 1. Belum ada
perubahan yang terlihat jelas dalam diriku, mungkin hanya kemampuanku saja yang
bertambah.
Kelas
tiga, makin banyak pelajaran yang aku dapat. Membaca? Sudah tak usah diragukan
lagi. Penjumlahan? Pengurangan? Sekarang aku sudah mulai belajar perkalian dan
pembagian. Sepertinya wajahku memang tak bisa berubah, ya selalu ceria,
Kelas
empat, semakin banyak banyak dan banyak lagi pelajaran yang aku dapat. Dikelas
empat terasa berbeda dengan kelas-kelas sebelumnya. Dikelas sebelumnya aku memang
selalu ceria, tapi dikelas empat? Teman-temanku sudah mulai mengenal dunia
luar. Ya, aku merasa dilupakan. Ah sudahlah, toh aku masih tetap satu sekolah
dengan mereka dan bisa bertemu dengan mereka setiap hari.
Kelas
lima, bertambah besarkah kita? Semakin pintarkah kita? Berubah, semua berubah.
Seakan waktu berjalan begitu cepat, apakah perubahan memang secepat itu? Tak
lagi kurasakan kedekatan bersama teman-temanku.
Kelas
enam, seperti sedang mengulang waktu. Rasa kesal dikelas sebelumnya seakan hilang
ditelan bumi. Kedekatan yang kemarin longgar, terasa erat kembali. Wajah ceria
muncul lagi setiap kali memasuki ruang kelas. Beban? Mungkin hanya tentang
Ujian Nasional yang menjadi beban saat ini.
Setelah
Ujian Nasional, rasanya seperti kembali ke kelas satu. Ceria, tak punya beban,
tak punya dosa, ah rasanya sangat lega. Namun, terbesit rasa sedih saat
teringat bahwa akan ada perpisahan setelah ini. Ingin rasanya menghentikan
waktu. Mengulang semuanya, melakukan segala yang telah kita lakukan sebelumnya,
Tiba-tiba
“Pok” pundakku ditepuk oleh
seseorang dari belakang
“Astagfirullah” jawabku spontan
seraya menoleh ke belakang. Ternyata Putri, sahabatku sejak kelas satu
“Jangan jalan sambil melamun gitu,
nanti kalau jatuh sakit loh” canda Putri
“Hehe, gak ngelamun kok” jawabku
singkat
“Yaudah, yuk jalan. Acara
perpisahannya udah mau mulai, kita jangan sampe telat. Kan kita pemeran
utamanya haha.” ajak Putri semangat
Akhirnya kami berdua pun tiba di
sekolah dan langsung masuk ke ruang acara.
Pada
permulaan acara, aku merasa biasa saja. Namun, ditengah acara, dadaku terasa
sesak. Mataku berkaca-kaca, aku mencoba menahan agar air mataku tak turun. Tapi
apalah dayaku, air mataku mengalir dengan derasnya seakan tak rela dengan
perpisahan ini. Tak bisakah waktu diulang? Mengapa waktu berjalan begitu cepat?
Atau memang sudah hukum alam? Ada pertemuan maka ada perpisahan. Jadi, mentari
yang cerah pagi tadi adalah mentari terakhirku menjadi siswi sekolah dasar?
Komentar
Posting Komentar